![]() |
| Foto: NuOnline |
AKTUAL24MEDIA.ID|JOMBANG- Sebanyak sembilan ulama sepuh terpilih menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).
Penetapan sembilan anggota AHWA tersebut dilakukan setelah Sidang Pleno IV menyelesaikan proses penghitungan suara. Kesembilan ulama itu nantinya memiliki peran penting dalam rangkaian pemilihan kepemimpinan PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
Adapun sembilan ulama yang terpilih yakni KH Nurul Huda Djazuli, KH Tgk Nuruzzahri Yahya, KH AG Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siroj, dan KH Abun Bunyamin.
1. KH Nurul Huda Djazuli
KH Nurul Huda Djazuli atau yang akrab disapa Mbah Yai Da merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.
Ia dikenal memegang teguh tradisi ta'lim wa ta'allum atau belajar dan mengajar. Selain aktif mendampingi para santri, KH Nurul Huda juga dikenal sebagai Mustasyar PBNU dan sebelumnya pernah masuk jajaran AHWA pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.
2. KH Tgk Nuruzzahri Yahya
Teungku KH Nuruzzahri Yahya atau Waled NU merupakan ulama asal Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Ia lahir pada 1951.
Waled NU menempuh pendidikan keagamaan di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Samalanga dan kemudian melanjutkan pendalaman ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits, Jombang.
Pada 1990, ia mendirikan Dayah Ummul Ayman yang menaungi pendidikan anak-anak yatim. Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi keagamaan di Aceh, termasuk pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Aceh.
3. AGH Baharuddin HS
AGH Baharuddin HS merupakan Mustasyar PBNU masa khidmah 2021-2026 dan Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan masa khidmah 2024-2029.
Selain dikenal sebagai ulama, ia juga memiliki keahlian dalam kaligrafi Arab serta aktif mengajarkan kitab-kitab kuning. Ia pernah memimpin MUI Kota Makassar sejak 2015.
4. KH Miftachul Akhyar
KH Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai anggota AHWA setelah sebelumnya juga menjadi anggota AHWA pada Muktamar ke-34 NU dan kemudian terpilih sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2022-2027.
Kiai Miftach memiliki perjalanan panjang dalam pendidikan pesantren dan organisasi NU. Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam PBNU, hingga Pj Rais Aam PBNU.
5. KH Afifuddin Muhajir
KH Afifuddin Muhajir lahir di Sampang, Madura, pada 20 Mei 1955. Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki kepakaran dalam fikih dan ushul fikih.
Kiai Afifuddin pernah menjadi Katib Syuriyah PBNU dan kemudian dipercaya sebagai Rais Syuriyah PBNU. Ia juga aktif dalam pengembangan keilmuan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, serta terlibat dalam berbagai pembahasan keagamaan yang menjadi bagian dari keputusan NU.
6. KH Anwar Iskandar
KH Anwar Iskandar merupakan ulama asal Banyuwangi yang memiliki rekam jejak panjang di NU. Ia pernah aktif di IPNU, PMII, Gerakan Pemuda Ansor hingga berbagai posisi strategis di struktur NU.
Kiai Anwar juga pernah menjabat Wakil Rais Aam PBNU masa khidmah 2021-2026. Di luar NU, ia dipercaya memimpin MUI dan kembali terpilih sebagai Ketua Umum MUI untuk periode 2025-2030.
7. KH M Anwar Manshur
KH M Anwar Manshur merupakan Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, sejak 2014. Ia lahir pada 1 Maret 1938 di Pondok Pesantren Lirboyo.
Kiai Anwar menempuh pendidikan agama di sejumlah pesantren dan dikenal sebagai salah satu ulama sepuh NU. Ia juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU serta Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.
8. KH Said Aqil Siroj
KH Said Aqil Siroj merupakan mantan Ketua Umum PBNU yang memimpin organisasi tersebut selama dua periode, 2010-2021.
Kiai Said lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953 dan memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Arab Saudi hingga meraih gelar doktor di Universitas Ummul Qura, Makkah.
Ia juga mendirikan Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Jakarta Selatan sebagai wadah pengembangan pendidikan keislaman.
9. KH Abun Bunyamin
KH Abun Bunyamin merupakan Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta.
Ia memiliki perjalanan pendidikan di sejumlah pesantren, antara lain Pesantren Cipasung, Hidayatul Muta’allimin, Al-Falah dan Santiong, Sukamiskin, serta Riyadlul Alfiyyah Sadang.
Saat menempuh pendidikan di Cipasung, KH Abun Bunyamin dikenal aktif dalam kegiatan pesantren hingga dipercaya menangani bidang muballighin.
Akan Tentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU
Sembilan anggota AHWA tersebut memiliki posisi strategis dalam Muktamar ke-35 NU. Setelah terpilih, mereka akan bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam PBNU.
Setelah Rais Aam terpilih, proses selanjutnya akan dilanjutkan dengan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
Dengan demikian, keputusan sembilan ulama sepuh tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam menentukan arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk periode mendatang.
