Ironis! Lansia di Pekalongan Tak Bisa Baca-Tulis dan Tak Punya HP, Bansos Malah Mandek karena Terindikasi Judol

foto: kompas.com

 PEKALONGAN, AKTUAL24MEDIA.ID – Nasib pasangan lanjut usia (lansia) Dayat (77) dan Darmi (63), warga Dukuh Kayunan Barat, Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi sorotan.

Pasangan lansia tersebut kehilangan bantuan sosial (bansos) yang sebelumnya mereka terima setelah data mereka terindikasi berkaitan dengan aktivitas judi online (judol).

Ironisnya, kondisi kehidupan pasangan tersebut justru sangat memprihatinkan. Dayat dan Darmi disebut tidak memiliki telepon seluler (HP). Bahkan, Dayat tidak pernah mengenyam pendidikan formal sehingga tidak bisa membaca dan menulis.

Sebelumnya, pasangan tersebut tercatat sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan menerima bantuan sekitar Rp600.000 setiap tiga bulan. Namun, sejak awal 2026, bantuan tersebut tidak lagi mereka terima.

Perangkat Desa Kayugeritan kemudian mempertanyakan munculnya indikasi judi online terhadap keluarga tersebut. Pasalnya, berdasarkan pengecekan, keluarga Dayat dan Darmi masuk dalam desil 1, atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Neli Setyowati, operator data kesejahteraan sosial Desa Kayugeritan, mengatakan pihak desa telah mengajukan sanggahan terhadap penghentian bansos keluarga tersebut.

Menurut Neli, kondisi Dayat dan Darmi tidak menunjukkan adanya kemampuan maupun akses untuk melakukan aktivitas judi online.

"Beliau itu tidak bersekolah, membaca dan menulis saja tidak bisa. HP juga tidak punya," ujar Neli, seperti diberitakan sejumlah media pada Jumat (28/8/2026).

Bansos Rp600 Ribu Sangat Berarti

Bagi keluarga Dayat dan Darmi, bantuan yang diterima setiap tiga bulan bukanlah uang dalam jumlah kecil. Bantuan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Ketika bansos masih diterima, uang sekitar Rp600.000 yang dicairkan tiga bulan sekali dapat membantu membeli beras dan kebutuhan rumah tangga.

Kini, setelah bantuan tersebut terhenti, pasangan lansia itu harus mengandalkan pekerjaan dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Dayat diketahui bekerja sebagai buruh membuang benang dari kain. Penghasilannya disebut hanya sekitar Rp3.000 dalam sepekan. Darmi juga melakukan pekerjaan serupa untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi semakin sulit karena salah satu anak mereka disebut membutuhkan perhatian khusus, sementara anak lainnya telah menikah dan tidak lagi tinggal bersama mereka.

Darmi bahkan menggambarkan beratnya kondisi keluarga ketika tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

"Kalau tidak ada ya tidak makan," ujarnya.

KTP Disebut Pernah Dipinjam

Pemerintah Desa Kayugeritan kemudian melakukan klarifikasi untuk mencari tahu penyebab munculnya indikasi judi online tersebut.

Dalam proses klarifikasi, disebutkan bahwa identitas atau KTP milik Dayat pernah dipinjam oleh pihak lain. Pemerintah desa kemudian membuat surat pernyataan dan mengunggah sanggahan melalui sistem data kesejahteraan sosial.

Kasus Dayat dan Darmi bukan satu-satunya persoalan serupa di Kabupaten Pekalongan.

Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan mencatat sebanyak 7.585 KPM terindikasi aktivitas judi online dan bantuan sosialnya dihentikan oleh Kementerian Sosial.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 157 KPM telah mengajukan klarifikasi untuk meminta agar bantuan mereka dapat kembali diaktifkan.

Pemerintah memberikan kesempatan kepada penerima bansos yang merasa tidak pernah melakukan judi online untuk mengajukan klarifikasi. Proses tersebut dilakukan melalui pemerintah desa dan selanjutnya diteruskan kepada pihak terkait.

Kasus pasangan lansia di Kayugeritan ini pun menjadi perhatian karena menunjukkan pentingnya ketepatan dan verifikasi data dalam penyaluran bantuan sosial. Di satu sisi, sistem mendeteksi adanya indikasi aktivitas judi online, namun kondisi faktual di lapangan menunjukkan pasangan tersebut hidup dalam keterbatasan dan sangat membutuhkan bantuan.

Bagi Dayat dan Darmi, bansos bukan sekadar bantuan pemerintah, tetapi menjadi salah satu penopang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.