Dosen Unimal Latih Warga Padang Sakti Olah Sampah Organik Jadi Kompos dan Bangun Biopori

Tim PKM Universitas Malikussaleh bersama mahasiswa dan warga Desa Padang Sakti menunjukkan sarana komposter drum dan pipa biopori dalam kegiatan penerapatan teknologi Takakura Eco Village berbasis circular economy.

AKTUAL24MEDIA.ID|LHOKSEUMAWE – Dosen Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal) melatih warga Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan metode Takakura. Program tersebut juga mencakup pembuatan lubang resapan biopori untuk mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

65 Persen Sampah Rumah Tangga Berupa Sampah Organik

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Penerapan Takakura Eco Village Berbasis Circular Economy untuk Reduksi Sampah Organik Permukiman di Desa Padang Sakti tersebut dilaksanakan untuk menjawab persoalan sampah rumah tangga di kawasan itu.

Berdasarkan analisis tim dosen Unimal, sekitar 65 persen sampah rumah tangga di Gampong Padang Sakti merupakan sampah organik. Wilayah tersebut memiliki 3.084 penduduk atau 787 kepala keluarga.

Keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah serta kebiasaan membuang dan membakar sampah menjadi tantangan yang ingin diatasi melalui program tersebut.

Kegiatan ini diketuai Dr. Ir. Abdul Jalil, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Sipil Unimal, dengan melibatkan dosen dari bidang Perencanaan Wilayah dan Kota serta Teknik Lingkungan.

Program tersebut merupakan bagian dari Skema Pengabdian Pembinaan Desa Lingkungan yang didanai melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam DIPA Universitas Malikussaleh Tahun Anggaran 2026.

Warga Dilatih Membuat Kompos Takakura

Rangkaian kegiatan dimulai pada 26 September 2026 melalui sosialisasi dan praktik pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Dalam kegiatan tersebut, tim menghadirkan M. Nazaruddin, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Unimal, untuk menjelaskan manfaat pengomposan dalam mendukung konsep ekonomi sirkular.

Melalui konsep ini, sisa sayuran, kulit buah, dan sampah organik lainnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang berguna bagi tanaman sehingga jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan dapat dikurangi.

Selanjutnya, Lusyana Eka Wardani, S.P.W.K., M.P.W.K., memandu demonstrasi pembuatan kompos Takakura melalui dua metode, yakni pengomposan skala rumah tangga menggunakan keranjang sederhana dan pengomposan komunal menggunakan drum berkapasitas lebih besar.

Warga juga diperkenalkan dengan pemanfaatan bahan lokal, seperti sekam padi dan dedak, serta cara menyiapkan media, mengoperasikan, dan merawat komposter.

Pada 27 September 2026, masyarakat kembali terlibat langsung dalam praktik pembuatan kompos komunal dengan pendampingan dosen dan mahasiswa Unimal.

Salah seorang warga, Halimatus Sakdiah, mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman langsung yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, warga tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan pembuatan kompos dan membawanya pulang untuk dilanjutkan secara mandiri.

Bangun 10 Lubang Resapan Biopori

Selain pengomposan, tim PkM Unimal juga membuat 10 lubang resapan biopori selama Oktober 2026.

Teknologi sederhana ini diperkenalkan untuk membantu meningkatkan peresapan air hujan ke dalam tanah pada lokasi yang sesuai. Lubang biopori juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana penguraian sampah organik.

Tim turut melakukan pemantauan terhadap proses pengomposan untuk melihat perkembangan kompos yang telah dibuat.

Ketua tim PkM, Abdul Jalil, berharap program Takakura Eco Village dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Melalui penerapan teknologi sederhana tersebut, sampah organik yang sebelumnya dibuang diharapkan dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus membantu menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan sehat.

Program ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan teknologi tepat guna dan ekonomi sirkular.

Dengan keterlibatan warga dalam proses pengomposan dan pembuatan biopori, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya berlangsung selama program pelatihan, tetapi juga dapat menjadi kebiasaan berkelanjutan di Gampong Padang Sakti.