![]() |
| Foto : BBC |
AKTUAL24MEDIA.ID — Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam rentang 1 hingga 3 September 2026, dugaan gangguan kesehatan dilaporkan terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, hingga Sulawesi Selatan. Total korban yang terdata mencapai sekitar 2.000 orang, terdiri dari siswa, santri, guru, serta penerima manfaat lainnya.
Kasus pertama dilaporkan terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa (1/9/2026). Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Tanggulangin serta siswa dari sejumlah lembaga pendidikan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang berasal dari SPPG Kalitengah.
Jumlah korban di Sidoarjo kemudian bertambah. Pada 2 September, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 566 korban. Sehari kemudian, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 730 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang dan menjalani pengobatan jalan. Sementara 23 orang masih menjalani rawat inap dan satu orang berada dalam observasi.
Kasus dugaan keracunan MBG juga dilaporkan terjadi di wilayah lain, termasuk Agam, Sumatera Barat, Lasem, Jawa Tengah, serta Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Gejala yang dilaporkan pada sejumlah penerima manfaat antara lain mual, pusing, hingga diare.
BGN Evaluasi Pelaksanaan MBG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG menyusul sejumlah laporan gangguan kesehatan tersebut.
Dalam kasus Sidoarjo, BGN menemukan adanya persoalan dalam proses pelabelan wadah makanan. Menurut Sudaryono, tidak seluruh wadah makanan diberikan label secara individual.
Ia menegaskan bahwa setiap wadah makanan ke depan wajib memiliki label yang mencantumkan informasi waktu secara akurat.
Sudaryono juga menyerahkan proses hukum apabila ditemukan unsur pidana kepada aparat penegak hukum. Menurutnya, penentuan ada atau tidaknya unsur pidana bergantung pada hasil penyelidikan dan penyidikan aparat.
Pemerintah sebelumnya juga menyampaikan komitmen untuk melakukan perbaikan tata kelola MBG agar program pemenuhan gizi tersebut dapat berjalan lebih aman dan optimal.
Catatan: Kasus-kasus tersebut masih berupa dugaan dan proses penanganan serta penyelidikan masih berlangsung.
